AKU MEMANGGILMU, # R
Kepada #R:
Dengan kalimat apa aku menuliskan arti hadirmu?
Sebagai debar yang tiba-tiba gemetar untuk mengharapmu atau rindu yang diam-diam menggebu?
Sudah lama aku membiarkan rasa yang diam terjaga dalam kesenyapannya;
sampai perjumpaan kedua menggelitik getar itu lagi, telak.
Maaf, jika itu terjadi begitu saja.
Apakah aku terlambat; bahkan sebelum sempat kubaca hati [mu] ?
Sungguh, aku tak menginginkan itu, karena esok dan seterusnya aku akan menunggu kerlingan manja, dan senyuman malu-malu yang kau titipkan pada arakan senja,
seperti kemarin.

Dengan kalimat apa aku menuliskan arti hadirmu?
Sebagai debar yang tiba-tiba gemetar untuk mengharapmu atau rindu yang diam-diam menggebu?
Sudah lama aku membiarkan rasa yang diam terjaga dalam kesenyapannya;
sampai perjumpaan kedua menggelitik getar itu lagi, telak.
Maaf, jika itu terjadi begitu saja.
Apakah aku terlambat; bahkan sebelum sempat kubaca hati [mu] ?
Sungguh, aku tak menginginkan itu, karena esok dan seterusnya aku akan menunggu kerlingan manja, dan senyuman malu-malu yang kau titipkan pada arakan senja,
seperti kemarin.

